Kamis, 15 Januari 2015
Sejarah Event Organizer
EO (Event Organizer) atau yang sering di sebut Penyelenggara acara adalah penyelenggara kegiatan yang terdiri dari serangkaian mekanisme yang sistematis dan memerlukan ketekunan, kesungguhan, serta kekompakan tim yang dimana acara tersebut dipadati dengan deadline, scheduling, pressure, dan teamwork solidity.
Di Indonesia sendiri EO sudah sejak lama ada, diperkirakan zaman raja-raja dahulu pola tersebut sudah dipakai pada acara-acara kerajaan seperti upacara ruwatan pusaka, perayaan, dan berbagai acara lainnya yang melibatkan banyak orang. Penanganan Event secara profesional di kembangkan di motori oleh “Sandra Tari Guruh Soekarno Putra” akan tetapi belum kembangkan dalam bentuk bisnis pada tahun 1960an. (hanya melayani untuk pementasan GSP saja). Bisnis Event Organizer berkembang secara pesat dan keseluruhan pada tahun 1970an yang dijalankan oleh beberapa team Off air Radio seperti Pampbors di Jakarta.
Kelompok-kelompok kerja tersebut semakin maju saja di era 80an. Setiap pesta adat, setiap acara di sekolah ataupun kampus, di kampung-kampung terutama pada acara hajatan perkawinan, acara peringatan kemerdekaan negeri ini, dan acara massa lainnya. Semuanya ditangani oleh Event Organizer dengan pembagian tugas masing-masing bagi anggotanya yang lazim disebut panitia. Bahkan istilah panitia masih digunakan sampai saat ini di kantor-kantor pemerintahan, terutama pemerintahan daerah dan pedesaan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Isitilah EO (Event Organizer) ini mulai populer di Indonesia pade sekitar era 90an dan hanya dilakukan dibeberapa kota besar saja dan semakin populer lagi pada tahun 1998 pasca era krisis dimana begitu banyak tenaga kerja yang keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dengan berbagai alasan dan mulailah mencari alternatif sumber penghasilan yang lain seperti EO. Dalam perkembangan EO dari dahulu sampai sekarang, EO sangatlah mudah dilakukan hampir semua daerah ditanah air kita ini. Setiap acara baik sederhana maupun acara besar sekalipun, baik peorangan maupun perusahaan, pasti mereka selalu memakai jasa EO (Event Organizer) yang diyakini bakal sukses dalam menangani sebuah acarang yang diadakan.
Untuk mendirikan sebuah EO diperlukan, motivasi, datanes, network, permodalan dana segar yang cukup, SDM yang dinamis dan pekerja keras, teamwork spirit, creativity, imagination dan konsep, keahlian individu yang tepat guna, personal yang baik, inisiatif yang tinggi, cermat dan tepat terhadap perkembangan yang terjadi. Orang-orang di berkerja menjadi EO mesti menerapkan Do Innovated Or Die, jadi di EO tersebut adalah kumpulan orang kreatif yang penuh inovatif. Siapapun bisa membuat atau menjadi EO (event Organizer), anak-anak sekolah atau Mahasiswa misalnya, bisa memulainya dari membuat acara Pentas Seni, Perpisahan, Perlombaan, dan lain-lain yang diadakan di lingkungan sekolah atau kampus. Tidak masalah kalau kita baru pertama kali mengadakan atau menangani suatu event, yang penting di sini kita bisa menghasilkan ide-ide yang kreatif dan cermelang yang bisa kita kembangkan menjadi sebuah konsep. Setelah konsep ada baru kita memikirkan bagaimana cara mendapatkan dananya misalnya dengan cara mencari sponsor agar acara tersebut bisa terlaksana dengan baik. Di bagian ini yang paling terpenting adalah kepercayaan orang terhadap kita semuanya akan jauh lebih ringan untuk dilaksanakan.
B. Perkembangan EO (Event Organizer)
Event Organizer itu sendiri telah berkembang pesat di Indonesia khususnya Jakarta dan kota-kota besar lainnya, dari yang bergerak di bidang pertunjukan musik, pameran produk seperti (mobil, komputer, handycraft,motor,dll), sampai wedding pun tersedia. Event Organizer sangat membantu pihak-pihak yang berminat mengadakan event seperti launching product, company gathering, anniversary, exhibitions, seminar, promosi, talkshow dan sebagainya, dari tahap persiapan sampai dengan event berjalan lancar dengan baik, kemampuan dasar apa supaya sukses menjadi EO dan memuaskan para kliennya dan apa saja yang kita akan dapatkan dengan menggeluti profesi EO.
Fungsi EO dalam mekanisme sebuah penyelenggaraan event-event yang mengkoordinasi, melayani, men-support kepentingan para pihak. Misalnya Trainer, Trainee, Vendor Training, transportasi dll, media massa, serta pihak-pihak terkait lainnya. Perannya sangat penting melalui peran Event Organizer, anda tidak perlu pusing untuk sebuah event karena anda harus fokus dalam melaksanakan tugas pokok anda misalnya: training, seminar, workshop, raker/rakernas dll.
Seorang yang berprofesi sebagai EO ada prasyarat basic kemampuan yang harus dikuasai, dengan makin luasnya ruang lingkup dan kompleksitas pekerjaan yang ditangani maka kemampuan yang dibutuhkan juga semakin berkembang, misalnya networking, lobbying, negosiasi, presentasi, leadership dll.
Untuk menyiapkan sebuah acara (event), dibutuhkan serangkaian tahapan. Mulai dari perencanaan, persiapan, pendanaan, sampai prosedur teknis kegiatan itu sendiri dari awal sampai akhir. Bagi awam, ini adalah pekerjaan yang memusingkan dan menuntut kerjasama sebuah tim.
Sebelum menggelar sebuah acara, untuk tingkat acara yang sederhana saja misalnya akan di bentuk semacam panitia. Panitia ini adalah sebuah tim yang terdiri dari sekelompok orang dengan pembagian tugas masing-masing agar seluruh rangkaian acara atau kegiatan itu bisa terselenggara. Sukses tidaknya acara tersebut tergantung penuh pada kesiapan koordinasi dan kinerja panitia. Jika tidak, pastilah acara akan berantakan.
Nah, kebutuhan sebuah pengorganisasian yang matang dalam mempersiapkan dan menggelar sebuah acara ini menjadi peluang dalam bisnis jasa. Bukan hal baru jika di banyak kota, khususnya kotakota besar, sudah muncul dan berkembang beberapa jasa “Panitia” yang bisa mengorganisir berbagai macam acara dan kegiatan. Perusahaan yang menawarkan jasa seperti ini dikenal sebagai “Event Organizer”.
C. Sejarah dan Perkembangan Bisnis Jasa
Jasa adalah setiap tindakan atau unjuk kerja yangditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip intangibel dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilkan apapun.Sektor Bisnis Jasa ini telah mengalami peningkatan yang dramatis dan signifikan dibandingkan decade sebelumnya. Layanan Bisnis Jasa adalah suatu tindakan atau perbuatan yang tidak berwujud dimana sebuah kelompok bisa menawarkannya pada kelompok lain dan tidak mengakibatkan kepemilikan apa pun. Seiring dengan meningkatnya kesejaterahaan masyarakat, maka konsumsi akan barang-barang selain kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan perumahan juga makin meningkat. Hal ini dikenal sebagai “Great Leap Forward” atau kemajuan yang luar biasa dalam dunia jasa.
Menurut Fitzsimmons dan Sullivan (1982:7), perkembangan sector jasa erat kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan aktivitas ekonomi meliputi hal berikut.
a) Primer (ekstraktif),meliputi pertanian,pertambangan,perikanan,dan kehutanan
b) Sekunder (produksi barang), meliputi pemanufakturan dan pemrosesan.
c) Tersier (jasa domestik),terdiri dari restorandan hotel,salon kecantikan,laundry,dan dry cleaning,pemeliharaandan reparasi.
d) Kuarter (perdagangan),meliputi transportasi,perdagangan eceran,komunikasi keuangan dan asuransi,real estate,dan pemerintahan.
e) Kuiner (perbaikan dan peningkatan kapasitas manusia),terdiri atas kesehatan pendidikan,riset,rekreasi,dan kesenian.
Menurut Christopher (1992: 2),kekuatan-kekuatan yang megakibatkan terjadinya perubahan atau pertumbuhan yang cepat terhadap jasa sebagai berikut.
a. Perubahan pola pengaturan dan kebijaksanaan pemerintah.
b. Kemudahan dalam menetapkan standar-standar mutu asosiasi profesional seperti standar akuntansi, arsitek,dokter,dan lain-lain.
c. Privatisasi
d. Inovasi teknologi komputerisasi.
e. Ekspansi bisnis leasing dan retail.
f. Globalisasi.
D. Konsep jasa
a. Produk fisik murni
b. Produk fisik dan jasa pendukung
c. Hybrid
d. Jasa utama yang didukung dengan barang dan jasa minor.
e. Jasa murni.
E. Karakteristik Jasa
Jasa memiliki 4 karakteristik yaitu:
a. Tidak berwujud (intangibility) mis: orang yang akan menjalani bedah tidak plstik tidak dapat melihat hasilnya sebelum membeli,.
b. Tidak terpisahkan(insparibility)
c. Keanekaragaman (variability)
d. Tidak tahan lama(perishability)
F. Tren Bisnis Jasa
Makin pesatnya teknologi seperti sekarang ini sangat mungkin akan menghadirkan sejumlah implikasin penting terhadap tren jasa dan pemasarannya. Berikut beberapa implikasi perubahan tren bisnis jasa di masa mendatang (mudrick, Render< dan Russell, 1990. Hlm. 40):
1. Inovasi jasa, meskipun kosumen belum menyadarinya sampai jasa itu disajikan.
2. Makin meningkatnya partisipasi kosumen dalam operasi jasa.
3. Makin banyaknya jasa yang siap pakai.
4. Meningkatnya kandungan jasa pada barang-barangkonsumsi.
5. Internasionalisasi.
Merujuk dari tren di atas, terdapat contoh-contoh bisnis jasa yang berkembangnya cukup pesat (Yazid, 1999, hlm. 11), yaitu:
1) Bisnis jasa: konsultan, keuangan, perbankan.
2) Pedagang jasa : eceran, pemeliharaan dan perbaikan.
3) Jasa infrastruktur: komunikasi, transportasi.
4) Jasa personal/social: restoran, perawatan kesehatan.
5) Adminitrasi umum: pendidikan, pemerintah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar