Kamis, 30 Oktober 2014

Wawancara Dengan Okta Rachmat Putra

  Okta Rachmat Putra, atau biasa di panggil mas okta adalah salah seorang Alumnus 2011 Politeknik LP3I Bandung yang lahir di Kota Madiun pada tanggal 17 Oktober 1993. Mas okta yang sering dijadikan nama panggilannya tersebut merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Anak bungsu dari pasangan Bapak Kamsi dan Ibu Sholehah ini pernah mengenyam sekolah dasarnya di SD Cibabat Mandiri 5 Cimahi. Lalu beliau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di SMP Negeri 6 Cimahi. Selain itu pula, beliau pernah bersekolah di SMA Negeri 5 Cimahi. Dan akhirnya, anak kelahiran 17 Oktober 1993 ini mendaftarkan diri sebagai mahasiswa disalah satu Politeknik di Bandung yaitu Politeknik LP3I Bandung.

 Meskipun rumah beliau berada cukup jauh dengan lokasi kampus, namun semangat berkuliahnya beliau tidak pudar. Karena dengan semangat dan kegigihannya untuk berkuliah di Politeknik LP3I Bandung, beliau sekarang bekerja di salah satu Perusahaan, PT Arum Nirwana Global. Namun sebelum beliau bekerja di perusahaan tersebut. beliau pernah bekerja di suatu perusahaan jasa CS Finance, yang merupakan lembaga pembiayaan utama dalam industri pembiayaan kendaraan roda dua. 
Pekerjaan yang beliau dapatkan tidak lain berkat usaha, doa, semangat dan kegigihannya tersebut. Dan tidak lupa, kampus tempat beliu mencari ilmu juga ikut terlibat dalam pekerjaan yang beliau geluti sekarang. Karena kampus tersebut memiliki program unggulan 2+1 yang artinya sistem pembelajaran yang kuliah intensifnya 2 tahun dan 1 tahun kerja atau dapat di singkat dengan program D3. Program ini menempatkan mahasiswanya untuk bekerja atau magang disalah satu perusahaan.

Di Politeknik LP3I Bandung, Humas adalah salah satu jurusan/prodi yang dipilih oleh alumnus 2011 yang satu ini. Tak lain karena Humas sesuai dengan kepribadian beliau sendiri yang lebih aktif dalam berbicara dan memang beliau sangat menyukai segala hal yang berkaitan dengan komunikasi. Didalam jurusan yang beliau jalani, terdapat banyak mata kuliah yang sangat berhubungan dengan dunia pekerjaanya, salah satunya seperti mata kuliah Public Speaking, PR Principle, Media PR, PR Event, dan PR Campaign. Walaupun pekerjaan beliau tidak melulu soal komunikasi dan lebih berbeda dari itu, pekerjaan yang beliau geluti sekarang dan sebelumnya membutuhkan komunikasi yang baik dan efektif.

Rabu, 22 Oktober 2014

Jurnalis Pro VS Jurnalis Warga

Pada helatan acara National Internet Security Day (NISD) yang diselenggarakan oleh Indonesia Security Incident Response Team in Internet and Infrastructure (Id-SIRTII) pada Rabu (20/11/2013) di Hotel Hilton Bandung, salah satu acaranya adalah workshop tentang ‘Etika berbicara di dunia Cyber”. Workshop tersebut, selain untuk para pemegang kebijakan di tingkat daerah juga untuk media. Space yang disediakan untuk media dipenuhi kalangan jurnalis warga atau populer disebut Citizen Journalis (CJ). CJ memang mendapatkan undangan khusus yang disebar kepada setiap komunitas yang ada. Ini bukan kali pertama para pewarta non profesional diundang ke acara-acara yang biasanya dihadiri oleh media mainstream. Di Jakarta, CJ sering diundang ke acara-acara korporasi. Seorang teman, yang hobby menulis tentang gadget, diundang ke acara peluncuran produk terbaru dari salah satu vendor terkenal di Korea beberapa waktu lalu. Ia menjadi satu-satunya CJ yang diundang dan sejajar dengan wartawan dari media nasional. Bahkan saya sendiri beberapa kali mendapatkan undangan liputan, namun sayang lokasinya di Jakarta, hingga urung berangkat.
Keberadaan CJ kini diperhitungkan oleh lembaga-lembaga yang haus publikasi. Dalam konteks relasinya dengan publik, publikasi menjadi point signifikan bagaimana agar lembaga bersangkutan memiliki citra positif. Publikasi menjadi kegiatan utama Public Relations perusahaan yang sudah mapan. Karena dengan publikasi, pencitraan lembaga bisa dilakukan. Publikasi dinilai memiliki nilai kejujuran dan reputasi meyakinkan dibandingkan dengan iklan seperti ditulis oleh Damastuti (2012). Oleh karena itu, publikasi memiliki tingkat kepercayaan tinggi dari masyarakat dibandingkan iklan yang dinilai banyak bohongnya (Ibrahim, 2009).
Jika jalan untuk menembus publikasi melalui media mainstream cukup sulit karena berbenturan dengan newsvalue. Publikasi melalui CJ relatif mudah karena pada dasarnya para CJ senang berbagi. Sharing is blogger ideology. Berbagi adalah ruhnya para CJ. CJ menjadi pencerita yang jujur, baik, bahkan tanpa pamrih. Kemampuan bercerita yang jujur dan apa adanya dari CJ dimanfaatkan oleh perusahaan nasional ataupun multinasional untuk membagikan pengalaman para CJ dengan suatu produk. Sebut saja misalnya seperti Telkomsel, Indofood, Indosat, Top One, Daihatsu, Kapal Api, Pertamina, merupakan beberapa perusahaan yang sering menggunakan jasa CJ. Bahkan mereka menyelenggarakan event tertentu untuk menjaring para CJ misalnya melalui lomba nge-blog. Lomba ngeblog bahkan kini menjadi event yang lumrah bagi lembaga yang sadar pentingnya publikasi yang akan menjadikannya sebagai storytelling perusahaan atau Word of Marketingnya(WOM).
Hybrid Journalism
Citizen Journalism rata-rata merupakan blogger, tetapi tidak semua blogger adalah CJ. Walaupun blogger memiliki ideologi yaitu berbagi, atau istilah Pepih Nugraha (2012) disebut sharism. Blogger dan CJ sama-sama memiliki sharismtetapi blogger tidak memiliki Journalism sebagai kegiatan mengumpulkan, mengolah, menulis, memublikasikan informasi faktual dengan benar. CJ juga dibekali oleh criticism sebagai daya pengungkit yang membuat laporan jurnalismenya menjadi hidup. Melalui tiga hal tersebut; sharismjournalism, dancriticism generasi jurnalisme baru yang lahir dari media baru (internet) itu bukan hanya sebagai pencerita yang gemar berbagi tetapi juga menjadi salah satu peletak demokrasi, bahkan dipercaya sebagai the fifth estate. Kita tengok Revolusi mesir, mereka digerakan oleh kekuatan komunikasi daring. Bahkan saat media mainstream dikuasi oleh kepentingan rezim, para CJ mampu membangun kekuatan dan melakukan revolusi sunyi.
Namun demikian, kehadiran CJ yang mampu menyampaikan informasi yang tidak terjangkau oleh wartawan profesional harus tetap berkolaborasi dengan Media mainstream, hal ini cukup beralasan karena kehidupan di negara berkembang, internet masih kalah populer dengan televisi. Internet hanya dinikmati oleh kalangan menengah, sementara media mainstream khususnya televisi sebagian besar dapat dinikmati oleh kalangan menengah bawah. Seperti hasil penelitian Biagi (2009), televisi menempati posisi paling populer diantara media lainnya yang disusul kemudian oleh internet dan Radio. Agar informasi yang disampaikan oleh CJ tersebar secara massif, maka kolaborasi antara CJ dan Wartawan Profesional menjadi keniscayaan.
Maka menjadi masuk akal ketika banyak media mainstream, baik cetak, elektronik, ataupun media mainstream online menerapkan pola hybrid journalism, sebut saja Metro TV melalui wideshot-nya. PRFMNews sebagai media warga juga menerapkan pola ini, informasi yang didapat dari warga diperkuat oleh wartawan PRFMNews sehingga menjadi berita kolaboratif. Bahkan berita foto kiriman warga pada akun PRFMNews seringkali menghiasi salah satu rubrik pada ‘PR’ Cetak. Tidak sedikit berita-berita yang ditayangkan televisi atau ditulis pada koran nasional juga yang menggunakan pola kolaborasi ini. CJ menyampaikan informasi, wartawan profesional memastikan informasi tersebut faktual. Dari sinilah Demokrasi itu akan dihidupkan kembali karena ia berada pada tangan yang sah, yaitu warga